 |
 |
|
 |
 |
|
| Topik /
Tokoh |
|
| Zainal Abidin Ala Mutho :Terobsesi Melestarikan Gunung | | By admin |
| Senin, 17-Januari-2005, 07:01:52 WIB |
220 klik |
 |
 |
|
|
Republika, Jumat, 17 September 2004
Zainal Abidin Ala Mutho
Terobsesi Melestarikan Gunung
Ketertarikan Zainal pada dunia penelitian berawal ketika ia duduk di MAN Yogyakarta 1. Pada 1989, bersama rekannya ia membuat penelitian tentang Pendidikan Kepramukaan di Pondok Pesantren Modern Islam As-Salam Solo. Penelitian itu mengantarkan Zainal pertama kali meraih juara umum pada lomba karya ilmiah se Jateng/DIY yang diselenggarakan oleh UGM.
Sejak itu, Zainal sering melakukan penelitian bersama teman sekolahnya. Pengalaman inilah yang agaknya membuat Zainal sulit melupakan almamaternya. Meski sudah lulus tahun 1990, namun cinta Zainal pada almamaternya tetap tak luntur. Itu ia buktikan dengan mendirikan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) MAN Yogyakarta 1, tahun 1991.
|
|
|
Ingin mencari sponsor untuk membeli gunung dan melestarikanya, sehingga dapat memberi contoh kepada masyarakat agar tidak sekadar mengeksploitasinya. Itulah salah satu keinginan Zainal Abidin Ala Mutho, pemenang pertama lomba Kreativitas Guru Tahun 2004 Tingkat SMU/Kejuruan Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial yang diselenggarakan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).
Menurut Zainal yang menyukai penelitian masalah lingkungan, sejak rezim Soeharto hingga kini, gunung yang merupakan sumber daya alam kita agaknya terus dieksploitasi. Bahkan dengan adanya otonomi daerah, pemerintah juga ingin mengeruk habis-habisan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat.
''Padahal dari segi lingkungan sangat mengkhawatirkan. Jika dikeruk terus, gunung tidak akan berumur lama. Padahal potensi yang ada di gunung sangat bagus, di antaranya tanaman untuk obat-obatan dan kosmetik,'' tutur alumnus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.
Ketertarikan Zainal pada dunia penelitian berawal ketika ia duduk di MAN Yogyakarta 1. Pada 1989, bersama rekannya ia membuat penelitian tentang Pendidikan Kepramukaan di Pondok Pesantren Modern Islam As-Salam Solo. Penelitian itu mengantarkan Zainal pertama kali meraih juara umum pada lomba karya ilmiah se Jateng/DIY yang diselenggarakan oleh UGM.
Sejak itu, Zainal sering melakukan penelitian bersama teman sekolahnya. Pengalaman inilah yang agaknya membuat Zainal sulit melupakan almamaternya. Meski sudah lulus tahun 1990, namun cinta Zainal pada almamaternya tetap tak luntur. Itu ia buktikan dengan mendirikan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) MAN Yogyakarta 1, tahun 1991.
Bahkan, lulus dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia tetap rajin melakukan penelitian. Semasa mahasiswa, pria kelahiran Kediri 23 Desemberi ini, bersama rekan kuliahnya pernah meraih juara II dalam lomba inovasi mahasiswa se DIY/Jateng. Dengan penelitian tentang Aspek Perlindungan Hukum Pengrajin Gerabah di Kasongan, Bantul, Yogyakarta.
Meski tempat Zainal menimba ilmu di IAIN, ia sering berhubungan dengan Pusat Penelitian Kependudukan, UGM. ''Alhamdulillah sejak tahun 1997 saya direkrut menjadi staf yang bertugas membantu penelitian PPK bekerja sama dengan Lembaga Demografi Universitas Indonesia,'' kata alumnus jurusan Peradilan Agama ini.
Pada 2002, ketika lulus dari IAIN, Zainal diterima bekerja di lembaga penelitian survey meter, kerja sama antara FK UGM dengan Riset and Development UCLA (Universitas California Los Angeles). Di lembaga ini ia membidangi Komfas (Komunitas dan Fasilitas). Dan kini konsentrasi penelitiannya di bidang sosial ekonomi, khususnya kesehatan dan produktivitas.
Meski jam kerjanya padat, Zainal tetap menyempatkan waktu menjadi pembimbing penelitian siswa MAN Yogyakarta 1 dan SMAN 6 Yogyakarta, khususnya pada hari Sabtu dan Minggu.
Ia pun tak membatasi siswa yang dibimbingnya pada kedua sekolah tersebut. Siapapun yang membutuhkan bimbingannya, akan dibantu. Bahkan, sejak 1991 ia membimbing penelitian yang dilakukan adik kelasnya. Sudah banyak siswa yang dibimbingnya meraih prestasi, baik di tingkat provinsi, Jawa, maupun nasional. Bahkan ada yang sampai tingkat ASEAN. Tak heran bila Zainal akhirnya berhasil meraih juara dalam lomba kreativitas guru.
''Sebenarnya karya saya jelek. Saya malu sekali bila dibandingkan dengan teman-teman peneliti lainnya. Banyak guru yang karyanya lebih bagus dari saya. Tapi, mungkin saya menang pengalaman dan membawa satu tumpuk karya anak-anak yang saya bimbing dan semuanya tentang lingkungan,'' paparnya dengan rendah hati.
Menurut Zainal, pembimbing penelitian itu tidak ada harganya. Honornya kecil, sekitar Rp 50 ribu per bulan. Tapi, bagi Zainal itu bukan masalah karena dilandasi hobi. Ia merasa bahagia bila para siswa yang dibimbingnya berhasil. ''Kegembiraan itu tak ternilai,'' tuturnya. Selain itu, anak bungsu dari Moehammad Djawahir dan Mariyam Sholihatin ini terobsesi agar para remaja makin berkembang melakukan aktivitas penelitian.
Sebagai pembimbing, kata Zainal, hal terberat adalah memotivasi siswa agar bisa memunculkan masalah. Selain itu, meski honornya rendah ia mengaku sering mendapat rezeki yang tak terduga. Bila mendampingi siswa bimbingannya berlomba, dia biasanya mendapat uang saku dan uang makan. Bahkan bila lebaran, ia juga sering mendapat bingkisan lebaran dari orang tua siswa yang dibimbingnya.
Menurut Zainal, untuk menjadi peneliti yang mumpuni, seseorang mesti aktif menggali sendiri. Terlebih, metode penelitian yang ia terima sewaktu kuliah hanya 3 SKS. ''Itu sangat kurang,'' tuturnya. Namun ia bersyukur. Berkat keaktifannya membimbing dan mengantar para siswanya mengikuti lomba KIR, ia sering mendapat ilmu dari para dosen ahli di bidang penelitian. ''Menurut saya jika mau mencari ilmu, pasti ada jalannya,'' ungkap lajang yang mengaku belajar penelitian pada para dosen di UGM secara door to door ini.
|
|
|
|
 |
 |
| Daftar Milis |
| Untuk mendaftarkan diri menjadi anggota mailing list, kirimkan email kosong ke alamat subscribe-alumni-manyk1@yahoogroups.com |
|
 |
|
 |
 |