 |
 |
|
 |
 |
|
| Topik /
Kegiatan |
|
| Penelitian Siswa MAN Yogyakarta I Persilangan Ayam Belgia dengan Ayam Kampung | | By admin |
| Senin, 17-Januari-2005, 09:02:27 WIB |
275 klik |
 |
 |
|
|
Republika Senin, 27 Januari 2003
Penelitian Siswa MAN Yogyakarta I
Persilangan Ayam Belgia dengan Ayam Kampung
|
|
|
Republika Senin, 27 Januari 2003
Penelitian Siswa MAN Yogyakarta I
Persilangan Ayam Belgia dengan Ayam Kampung
Bagi sebagian masyarakat, terutama yang berada di pedesaan, ayam kampung menjadi penunjang kebutuhan hidup sehari-hari. Hampir setiap keluarga memelihara ayam kampung. Hanya saja, cara pemeliharaan yang mereka lakukan masih tradisional: ayam dilepas bebas berkeliaran di kebun-kebun atau pekarangan rumah.
Cara seperti ini dinilai oleh Fajar Fathurrahman bersama Nuri Hidayati dan Nurma Fitria, jelas kurang produktif. ''Padahal, sampai saat ini minat masyarakat terhadap telur dan daging ayam kampung tetap tinggi,'' kata ketiga siswa Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta I tersebut.
Mereka pun terdorong untuk melakukan penelitian mengenai teknik persilangan ayam. Kebetulan, masyarakat Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman melakukan teknik itu untuk mendongkrak kualitas ayam.
Subjek dalam penelitian ini adalah ayam kampung dengan ayam Belgia (masyarakat lebih mengenalnya dengan nama ayam Arab). Hasil persilangan tersebut kemudian disebut bibit ayam kampung hasil persilangan.
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi sistematik, berupa pengamatan yang diselenggarakan untuk mengumpulkan data dan mencatat kejadian yang ada di lapangan dengan bantuan tabel yang telah dikategorisasi. Analisis data menggunakan teknik deskriftif, yaitu analisa dengan cara melakukan interpretasi (penafsiran) terhadap data yang diperoleh.
Bagaimana sifat ayam kampung dan ayam Belgia? Dari wawancara dengan pemilik peternakan diketahui sedikitnya ada empat sifat-sifat positif ayam kampung. Keempat sifat tersebut adalah warna dagingnya putih dan enak dikonsumsi dan kulitnya bagus. Selain itu, daya tahannya baik terhadap kondisi lingkungan serta tidak sering terbang dan lepas dari kandang.
Sifat negatif ayam kampung adalah kanibalisme. Hal tersebut disebabkan antara lain ayam kekurangan zat makanan, misalnya protein, mineral, dan air minum. Faktor lain adalah jumlah ayam dalam satu kandang terlalu padat sehingga sering berebut tempat yang paling menyenangkan.
Sifat positif ayam Belgia, sebagian besar kebalikan dari sifat negatif ayam kampung. Misalnya, tidak kanibal, kemampuan seksual tinggi, daya tahan tubuh terhadap kondisi lingkungan baik, tidak mengeram, jarang terjadi rontok bulu, dan tidak memakan telur. Sifat negatif ayam ini, sering terbang (ingin lepas), senang tinggal di batang pohon, warna dagingnya kehitaman dan kurang enak dikonsumsi, dan kulitnya kurang bagus.
Dari wawancara yang sama diperoleh informasi bahwa pada dasarnya persilangan ayam pejantan Belgia dengan ayam betina kampung ini dilandaskan pada hukum Mendel. Teknik persilangan yang dilakukan di peternakan itu adalah dengan langsung memasangkan kedua jenis ayam itu dalam satu kandang. Setiap kandang berisi ayam pejantan dan ayam betina dengan perbandingan 1 pejatan : 4 betina.
Pada peternakan ini terdapat enam buah kandang panggung dengan sistem battery untuk melaksanakan perkawinan. Semua kandang berada dalam satu kandang sistem postal. Dari enam kandang tersebut, rata-rata diperoleh telur yang bertunas atau siap untuk ditetaskan kurang lebih 10 butir per hari. Telur yang diperoleh ada dua macam, yaitu telur yang dibuahi dan tidak dibuahi. Telur yang dibuahi adalah telur yang diperoleh dari ayam yang telah disilangkan atau dikawinkan.
Setelah disortir, telur kemudian dimasukkan ke dalam mesin penetas. Selama dalam mesin penetas, telur dibalik dari kiri ke kanan, pagi dan sore. Setiap tiga hari telur diputar dari atas ke bawah agar panas dan kelembaban yang diterima telur merata. Telur menetas setelah 21 hari berada dalam mesin penetas. Ketika telur menetas, anak ayam yang keluar dibiarkan selama 24 jam berada di dalam mesin penetas. Ayam-ayam yang baik dan bisa dijadikan sebagai induk, dipilih dan diambil untuk persilangan tahap kedua.
Dari observasi dan wawancara diketahui, produksi telur dan sifat-sifat ayam hasil persilangan pertama meningkat atau berubah lebih positif jika dibandingkan dengan ayam kampung betina yang menjadi induk. Sifat-sifat tersebut antara lain, tidak mengeram, sifat kanibalisme berkurang, produksi telur tinggi, tidak memakan telur, kemampuan seksual tinggi, daya tahan tubuh terhadap kondisi lingkungan baik, jarang terjadi rontok bulu, warna dagingnya kuning dan enak dikonsumsi.
Karya ketiga siswa ini dinyatakan sebagai pemenang harapan I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2002 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). bur |
|
|
|
 |
 |
| Daftar Milis |
| Untuk mendaftarkan diri menjadi anggota mailing list, kirimkan email kosong ke alamat subscribe-alumni-manyk1@yahoogroups.com |
|
 |
|
 |
 |