 |
 |
|
 |
 |
|
| Topik /
Tokoh |
|
| Akhudiat, Bersastra Sembari Bertani | | By tamim |
| Minggu, 15-Februari-2004, 01:36:47 WIB |
948 klik |
 |
 |
|
|
AKHUDIAT, penyair, dramawan, dan budayawan, bagaikan meteor yang lepas dari galaksi. Kehadirannya sebagai pelaku sastra hampir tak lapuk termakan zaman. Padahal, jenjang pendidikan yang ia lalui justru bertolak belakang.Saya justru lebih mengerti sastra daripada hukum-hukum agama Islam, walaupun selama tiga tahun kuliah di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), ujar Akhudiat, suatu Senin, awal Desember 2001, di Fakultas Ushuludin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.
|
|
|
AKHUDIAT, penyair, dramawan, dan budayawan, bagaikan meteor yang lepas dari galaksi. Kehadirannya sebagai pelaku sastra hampir tak lapuk termakan zaman. Padahal, jenjang pendidikan yang ia lalui justru bertolak belakang.Saya justru lebih mengerti sastra daripada hukum-hukum agama Islam, walaupun selama tiga tahun kuliah di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), ujar Akhudiat, suatu Senin, awal Desember 2001, di Fakultas Ushuludin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.
Jika pensiun dari pegawai negeri sipil, saya kembali ke Rogojampi untuk mengurus warisan sawah, kebun kelapa, dan rumah dari kakek saya, ujar Akhudiat yang kelahiran Rogojampi, Banyuwangi, 5 Mei 1946, itu.
Pola pergaulan Akhudiat di tengah komunitas seniman dan budayawan di kota pelajar Yogyakarta, tahun 1964-1965, justru memberikan nuansa batin tersendiri bagi orang Using ini. Keakraban bergelut dengan pelbagai buku sastra serta buku-buku pengetahuan lain, di Jefferson Library, Yogyakarta, dan kepustakaan United States Information Service (USIS) Surabaya, menjadikan Akhudiat kian memperkaya jati dirinya sebagai seorang seniman.
Pengalaman saya pertama saat menonton WS Rendra di UGM (Universitas Gadjah Mada) dalam pementasan karya pengarang dari Amerika Serikat, Hai Orang Yang di Luar Itu, ujar Akhudiat.
Kepustakaan menjadi guru pelbagai pengetahuan Akhudiat, sehingga dalam kiprahnya sebagai penyair, dramawan, dan budayawan, memberikan makna bagi Kota Surabaya, termasuk Jawa Timur. Sedangkan pergaulannya dengan para seniman dan budayawan di Kota Yogyakarta memberi dorongan batin yang teramat kuat untuk menjadi bagian dari kesenimanan. Tahun 1963-1964 saya bergabung dengan kelompok Teater Muslim Yogyakarta, dan bergaul dengan almarhum Muhammad Diponegoro, Arifin C Noer, dan Petrus Sujono, ujarnya.
Jika rekan-rekan Akhudiat di PHIN Yogyakarta menjadi penitera dan hakim agama, sebaliknya dengan penyair asal Rogojampi ini, justru besar dan meraih keharuman pada dunia berkesenian dan berkebudayaan di negeri ini. Lima (5) naskah drama yang ia lahirkan memenangkan lomba yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Dalam lomba penulisan naskah drama, tahun 1972, naskah drama garapan Akhudiat bertitel Grafiti memenangi lomba tersebut. Naskah drama Joko Tarub dan Rumah Tak Beratap (1974), juga memenangi lomba yang sama.
Lalu berturut-turut memenangi lomba yang sama tahun 1975 dengan naskah drama berjudul Bui, dan Re (1977). Setelah memenangi lomba penulisan naskah drama tahun 1975, saya dikirim ke International Writing and Program di Universitas of IOWA, dan selama enam bulan saya belajar bahasa dan teater di sana, ujar Akhudiat.
Akhudiat yang mempersunting gadis Solo, Mulyani, tahun 1974, kini dikaruniai tiga orang anak; Ayesha, Andre Muhammad, dan Yasmin Fitrida. Anak pertama alumnus Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya, anak kedua alumnus Universitas Terbuka (UT), dan anak ketiganya alumnus Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya. Kini, anaknya yang ketiga memilih profesi sebagai wartawan salah satu tabloit di Surabaya, anak kedua bekerja di salah satu perusahaan taksi, sedang anak pertama sedang kursus kecantikan.
Mereka ndak mau jadi pegawai negeri karena enggak enak, karena mereka melihat bapaknya yang pegawai negeri dengan gaji waktu itu hanya Rp 500 per bulan. Padahal, waktu itu bayar rumah kos sudah Rp 600 per bulan. Jadi, ya saya mencari tambahan penghasilan dengan menulis naskah di koran-koran, ujar Akhudiat yang berstatus PNS sejak tahun 1970.
Getir sebagai pegawai negeri sipil (PNS) telah pula dirasakan oleh Akhudiat ketika mengawali karier sebagai pegawai IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dari pekerjaan sebagai Hubungan Masyarakat (Humas), Kepala Bagian Kemahasiswaan, hingga Tata Usaha Fakultas Ushuludin yang tahun depan (2002) memasuki masa pensiun. Tahun 1990-1995 saya mengajar Darmatologi/Drama Turgi di Fakultas Dakwah dan Sejarah Kesenian Islam di Fakultas Adab, ujarnya sembari tersenyum.
Akan tetapi, Akhudiat lebih dikenal sebagai seniman dan budayawan. Predikat itu ia buktikan dengan pelbagai karya sastra. Jika kini Akhudiat terus berproses dan mampu melahirkan karya-karya sastra, baik esai, puisi, cerpen, dan naskah drama, itu lantaran Akhudiat adalah sosok manusia yang terus berguru pada kepustakaan serta pergaualannya dengan sesama manusia, terlebih pada komunitas seniman dan budayawan.
Tahun 1970-an saya sudah menulis esai, cerpen, puisi, dan naskah drama, serta menerjemahkan beberapa karya sastra. Terakhir, Sherwood Anderson; Kematian di Dalam Hutan. Dan akhir tahun ini cerpen karya saya bertajuk New York After Midnight bersama karya-karya Rendra, Goenawan Mohammad, dan Taufik Ismail, akan diterbitkan oleh Yayasan Lontar, ujar Akhudiat.
***
LANTARAN eksistensinya sebagai penggerak sekaligus motivator dalam dunia berkesenian di kota berpenduduk 3,2 juta jiwa itu, Akhudiat oleh Wali Kota Surabaya (waktu itu), dokter Poernomo Kasidi, diberi penghargaan sebagai warga kota yang aktif di dalam bidang teater. Penghargaan ini telah pula menjadi pembuktian eksistensi Akhudiat sebagai seniman di kota arek-arek Suroboyo ini.
Tahun 1977-1982 sosok Akhudiat yang akrab dalam pertemanan dengan seniman sekaligus budayawan Using kesohor, yakni Ali Hasan (ayah penyanyi Emilia Contesa-Red) dan Hasan Singodimayan (almarhum), sempat pula menjadi anggota pleno Dewan Kesenian Surabaya (DKS), sutradara Bengkel Muda Surabaya (BMS) tahun 1977-1982, dan sejak tahun 1998-2003 sebagai salah satu Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) Bidang Informasi. Naskah drama Joko Tarub yang memenangi lomba penulisan naskah drama DKJ, sekarang ini juga diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur, ujar Akhudiat.
Bengkel Muda Surabaya (BMS) pun menerbitkan kumpulan puisi karya cipta Akhudiat, yakni kumpulan puisi dari tahun 1973-1999 bertajuk Jalan ke Sumber setebal 85 halaman. Sekarang ini saya sedang mengumpulkan cerpen dan esai yang masih menumpuk di folder, ujar Akhudiat.
***
MELONGOK Akhudiat bagaikan menengok anak manusia yang unik, lantaran guyonannya penuh arti dan makna kemanusiaan yang hakiki. Ia pun melontarkan bahasa satire kepada kaum yang berlebel orang kaya baru (OKB), yang justru tidak memperkaya diri dengan olah otak yang berkait dengan olah pikir dan olah hati, sehingga menjadi manusia yang keropos. Celakanya, orang-orang kaya baru itu mengisi rohani bukan dari atas perut, hati hingga otak di kepala, tetapi justru dari perut ke bawah, ujar Akhudiat terkekeh.
Kini Akhudiat telah merintis sebuah sekolah di bawah pohon, di BMS, DKS, setiap hari Selasa. Hal itu memberikan sumbangan besar terhadap olah pikir, olah rasa, olah batin, dan olah hati, karena melalui berkesenian itulah Akhudiat bisa disebut orang yang ahli. Kalau teman-teman saya mahir berkhotbah, saya lebih mahir berdeklamasi, canda Akhudiat.
Bagaimana nanti setelah pensiun sebagai PNS? Akhudiat mengaku akan tetap bersastra, walaupun harus bolak-balik Surabaya-Rogojampi untuk bertani. Untungnya, pemerintah ndak jadi membangun lapangan terbang di Rogojampi. Kalau jadi, ya sawah saya bisa hilang, ujarnya sambil tertawa ngakak.
Kini, bisa jadi banyak orang menunggu kiprah kesenimanan Akhudiat yang lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Terbuka (UT), tahun 1992, itu. (Abdul Lathif)
Kompas.com Jumat, 28 Desember 2001 |
|
|
|
 |
 |
| Daftar Milis |
| Untuk mendaftarkan diri menjadi anggota mailing list, kirimkan email kosong ke alamat subscribe-alumni-manyk1@yahoogroups.com |
|
 |
|
 |
 |